Pentingnya Pelayanan Gizi Dalam Penyembuhan Penyakit

  • 17 April 2012
Pentingnya Pelayanan Gizi dalam Penyembuhan Penyakit

Gizi berperan penting dalam pencegahan dan penyembuhan penyakit. Beberapa literatur menyebutkan, pola makan yang baik dan aktivitas fisik yang teratur dapat mencegah hampir 80% timbulnya penyakit degeneratif.


Untuk pemulihan kesehatan pasien diperlukan proses asuhan yang komprehensif  yang  terstandar, Proses asuhan gizi terstandar dan komprehensif memerlukan keterlibatan berbagai profesi terkait (dokter, perawat, gizi, farmasis) sejak mulai assesment, penegakan diagnosis, intervensi, dan monitoring evaluasi (monev). Dengan demikian, masing-masing profesi perlu meningkatkan kompetensi sesuai dengan standar kompetensi dan profesinya. Oleh karenanya, perlu kerjasama yang baik antar profesi.

Demikian paparan Wamenkes Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D pada acara 1st Makassar Annual Meeting on Clinical Nutrition 2012 bertema Comprehensive Management On Nutritional Care In Clinical Setting di Makassar (1/03).

“Kesehatan merupakan hak dasar manusia. Kita tidak bisa produktif jika kita tidak sehat” kata Wamenkes.

Wamenkes menegaskan, perbaikan di bidang gizi bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi perorangan dan masyarakat.

Mutu gizi atau status gizi merupakan gambaran hasil pengukuran antropometri (Berat Badan, Tinggi Badan, Lingkar Kepala, dll), penilaian biokimia, pemeriksaan klinis serta penilaian tingkat kecukupan konsumsi dibandingkan dengan baku standar yang telah ditetapkan, tambah Wamenkes.

Di Indonesia, salah satu masalah kesehatan masyarakat yang sedang kita hadapi saat ini adalah beban ganda masalah gizi. Pada tahun 1990, prevalensi gizi kurang dan gizi buruk sebanyak 31%, sedangkan pada tahun 2010 terjadi penurunan menjadi 17,9%. Meskipun keadaan ini membaik, persoalan berikutnya adalah tingginya prevalensi Balita pendek dan meningkatnya prevalensi gizi lebih, baik pada Balita dan usia dewasa.

“Asupan gizi yang tidak sesuai kebutuhan, baik kelebihan maupun kekurangan erat kaitannya dengan peningkatan risiko penyakit” kata Wamenkes.

Berdasarkan data Riskesdas 2010, prevalensi gizi lebih pada Balita sebesar 14,0 %, meningkat dari keadaan tahun 2007 yaitu sebesar 12,2 %. Masalah gizi lebih yang paling mengkhawatirkan terjadi pada perempuan dewasa yang mencapai26,9% dan laki-laki dewasa sebesar 16,3%.


Wamenkes menambahkan menurut hasil studi kohort yang dilakukan beberapa ahli gizi di tiga rumah sakit yaitu, RS Dr. Sardjito Yogyakarta, dan RS M. Jamil Padang, RS Sanglah Denpasar yang dikenal dengan penelitian SARMILA, diketahui pentingnya peran gizi untuk pencegahan malnutrisi dan penyembuhan penyakit pasien.

  • 17 April 2012

Artikel Lainnya

Cari Artikel